Wakaf, Sumber Sedekah Abadi

865

Buku ini meyakinkan kembali pentingnya memahami konteks kehidupan saat ini yang penuh riba sehingga umat Islam mengerti betapa penting dan gentingnya peranan wakaf di masa kini dan nanti.

Pengelolaan wakaf di Indonesia masih salah kaprah. Antara lain mencampuradukan “Paradigm Wakaf” – management surplus center (sedekah jariah; manfaat-lestari) dengan “Paradigma Sedekah” – liability management atau cost center (sedekah; manfaat-sekali-waktu). Padahal kedua paradigma tersebut menghasilkan kegiatan sosial yang sangat berbeda. Kekeliruan paling serius dimulai dari ketidakpahaman bahwa sekarang ini kita hidup dalam sistem dan cara hidup berbasis riba yang diharamkan Allah SWT.
Buku ini:

• Mengajak umat Islam, terutama para wakif, untuk membulatkan niat mengokohkan “Paradigma Wakaf”. Yakni dengan menjadikan wakaf sebagai aset dan mengalirkan hasilnya, untuk kaum dhuafa.
• Meyakinkan kembali pentingnya memahami konteks kehidupan saat ini yang penuh riba sehingga umat Islam mengerti betapa penting dan gentingnya peranan wakaf di masa kini dan nanti.
• Membahas pengertian riba dan pengaruhnya terhadap pengelolaan filantropi (kedermawanan sosial dalam konsep kapitalisme), serta perbedaan yang mendasar dengan model pengelolaan program dan jaminan sosial dalam Islam.
• Menyajikan berbagai gagasan tentang kembali ke “Paradigma Wakaf”, strategi pendayagunaan dan pengelolaan wakaf yang produktif, dan memakmurkan rakyat dengan wakaf.

Perumpamaan wakaf sebagai “angsa bertelur emas” untuk memudahkan pemahaman kita tentang watak produktif wakaf. Kita boleh menikmati telur emasnya terus-menerus untuk keperluan apa pun, tanpa menyembelih angsanya. Sang angsa malah harus dipelihara, dirawat baik-baik, diberi pakan bergizi agar terus menghasilkan telur emas.