Inilah Impact Investment: Berinvestasi Sambil Beramal

1163

Di tengah maraknya kewiraswastaan di satu sisi, dan makin sulitnya menjadi dukungan permodalan di sis lain, melahirkan gerakan baru: Impact Investing atau Investasi Berdampak.

Gerakan ini memberikan alternatif bagi para wiraswasta untuk melepaskan diri dari dunia perbankan yang acap menjerat karena sistem kredit berbunga. Ringkasnya Investasi Berdampak adalah gerakan sosial meski tetap bertujuan mencari profit.

Herry Darwanto  menulis sebuah penjelasan tentang gerakan ini. Menurutnya,  secara garis besar impact investing dibentuk oleh tiga kelompok.

Di berbagai negara biasanya ada orang-orang berpunya yang tidak mementingkan lagi berapa imbal hasil dari dana yang diinvestasikan di suatu perusahaan karena kekayaannya sudah mencukupi kebutuhan hidupnya. Mereka lebih mementingkan meaning daripada money. Dari merekalah sumber dana untuk pengentasan kemiskinan berasal.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang menjalankan usaha dalam bidang yang berkaitan dengan kehidupan penduduk miskin, misalnya membuat peralatan yang berguna untuk meringankan beban penduduk miskin, seperti alat pembangkit listrik, penyaring air kotor, jamban, sepeda multi fungsi, peralatan medis, pengolah hasil pertanian, dan lain-lain. Selama ini, barang-barang itu tidak bisa dibeli oleh penduduk miskin karena penghasilannya yang terbatas. Maka dengan membuat barang-barang tersebut namun dengan harga yang terjangkau, mereka akan sangat terbantu.

Setahap demi setahap mereka akan terbebas dari kemiskinan dan dapat menikmati hidup seperti penduduk yang berkecukupan. Pembuat barang-barang ini dapat seorang mahasiswa, peneliti, teknisi, pengrajin, atau orang yang memiliki hobi, yang mempunyai keinginan menghasilkan benda, cara atau peralatan yang berguna bagi masyarakat banyak.

Termasuk dalam kelompok kedua adalah lembaga keuangan mikro lokal yang memberikan kredit kepada masyarakat miskin, kepada kaum wanita, atau bisa kepada kelompok yang selama ini mengalami kesulitan dalam memperoleh kredit dari lembaga keuangan yang ada.

Usaha lain yang termasuk dalam kelompok ini adalah pengelolaan pelatihan bagi petani, pengrajin, pengelola desa wisata, dan sebagainya. Entitas yang termasuk dalam kelompok kedua ini bisa berada di manapun, di negara maju atau di negara berkembang; namun produksinya utamanya ditujukan untuk membantu masyarakat miskin di negara berkembang.

Kemudian masih diperlukan satu kelompok lagi yang mempertemukan kelompok pertama (investor sosial) dengan kelompok kedua (penyedia barang/jasa untuk penduduk miskin). Kelompok ketiga ini umumnya organisasi nirlaba, yang berfungsi menghimpun dana dari kelompok pertama dan menyalurkannya kepada kelompok kedua yang telah diseleksi.

Sinergi antara ketiga kelompok inilah yang diharapkan dapat membantu mengurangi jumlah penduduk miskin di dunia, termasuk di Indonesia. Berbeda dengan kegiatan bisnis yang konvensional, di sini motivasi utamanya bukan keuntungan namun kegunaannya bagi masyarakat miskin. Pola inovasi bermotif sosial ini berbeda dengan kegiatan bisnis konvensional dalam hal produk yang dihasilkan ditujukan untuk atau berdampak pada berkurangnya beban masyarakat miskin.

Jadi penggerak semua kelompok tadi adalah keinginan untuk membantu masyarakat miskin. Sebetulnya bukan hanya masyarakat miskin, namun juga kelompok-kelompok dalam masyarakat lain yang dianggap kurang beruntung, seperti penyandang cacat, suku terasing, penderita penyakit tertentu, dan lain-lain.

Namun berbeda dengan kegiatan amal (charity), dalam impact investing ini keinginan untuk mendapatkan keuntungan tetap ada, walaupun bukan yang utama. Motivasi yang mendasari usaha bersama ini tidak hanya terkait dengan masalah sosial-ekonomi, namun juga lingkungan.

Salah satu contoh sukses impact investing adalah Miroculus, perusahaan San Fransisco yang membuat alat untuk mendeteksi kanker dengan harga yang lebih murah, lebih cepat, lebih akurat dari alat serupa yang ada di pasaran. Salah seorang pendirinya, Jorge Soto terdorong untuk menemukan alat itu setelah bibinya terkena kanker paru-paru (dapat dilihat di TED Talk). Kisah lain adalah Semtive, perusahaan start-up Argentina yang membuat turbin angin vertikal. Dengan alat ini penduduk pedesaan dapat mengurangi biaya untuk bahan bakar dengan menggunakan energi terbarukan. Semtive sudah mengekspor turbin temuannya ke berbagai negara di luar Amerika Latin. Kedua perusahaan tersebut mendapat kucuran dana dari investor sosial dengan konsep impact investing.

Potensi impact investing cukup besar, dan bertumbuh. Angka sementara yang diperoleh, pada tahun 2013 ada $10.6 miliar dana yang dikucurkan dan para investor akan menambah $12.7 miliar lagi tahun 2014. Berapa dana yang saat ini ditanamkan, mungkin jauh lebih besar lagi sejalan dengan semakin populernya impact investing. Nilai investasi juga kelak tidak ada batas bawahnya. Akan semakin banyak investasi dengan nilai kecil dapat ditampung dalam sistem impact investing.

Keunggulan impact investing lain adalah pemberi modal dapat memilih lokasi penduduk miskin yang akan dibantu. Kegiatan impact investing dapat berimpitan dengan kegiatan lembaga-lembaga donor internasional seperti Bank Dunia dengan slogannya The World Free of Poverty. Perbedaaannya, impact investing dilaksanakan dengan menggunakan mekanisme pasar yang sudah berjalan di suatu negara tanpa melalui birokrasi pemerintahan, sehingga dapat lebih cepat dan lebih luas cakupannya. Bila keduanya bisa berjalan bahu membahu, tentunya dampaknya akan lebih besar lagi.

Namun impact investing bukan tanpa tantangan. Salah satunya adalah bagaimana dampaknya pada perekonomian lokal, apakah kegiatan impact investing menyebabkan pengusaha setempat menjadi tersaingi sehingga mundur dari kegiatan bisnis, atau pidah ke daerah lain. Biaya sosial ini perlu dipertimbangkan dalam mengukur keberhasilan impact investing.

Bagaimana di Indonesia? Dari searching di Google tidak banyak informasi yang diperoleh mengenai impact investing di sini. Namun karena bisnis bercorak sosial bukan sesuatu yang baru di sini, kegiatan sejenis impact investing kemungkinan telah banyak dilakukan, walau dengan nama yang berbeda. Sudah sering terdengar peluang investasi yang ditawarkan kepada masyarakat dengan tujuan sosial plus ada keuntungan, jadi mirip dengan impact investing, namun ternyata di tengah jalan berhenti.

Tidak diragukan bahwa di Indonesia banyak orang yang ingin menyumbangkan uangnya untuk kegiatan sosial. Jika ada lembaga non-profit yang bergerak di bidang impact investing, yaitu menjembatani investor dengan pihak-pihak yang kegiatannya membantu masyarakat miskin, maka akan banyak dana yang dapat dikucurkan untuk membiayai kegiatan yang berdampak sosial besar. Kuncinya adalah bagaimana membentuk lembaga perantara yang dapat dipercaya agar masyarakat dapat berbisnis sekaligus beramal dengan tenang.

Selengkapnya: http://www.kompasiana.com/herrydarwanto/impact-investing-berbisnis-sambil-beramal_589bfa088d7e610910cd4cab