Hilman Latief: “Sociopreneur, Daya Dukung Utama Filantropi Pendidikan Kontemporer.”

1316

Filantropi pendidikan era ini menemukan caranya sendiri untuk eksis. Bukan hanya bertumpu pada donasi, sociopreneur menjadi penting ketika dunia terus bergerak inovatif. Ada banyak bentuk sociopreneur yang dapat dipraktikkan. Akseleratif dan progresif.

Hilman Latief, MA, Ph.D. seorang akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang concern pada semua hal tentang filantropi, terutama filantropi pendidikan dan pendidikan filantropi.  Setelah bersapa kenal, pembicaraan tentang filantropi pendidikan pun menghangat. Ia tampak fasih dan menguasai isu. Wajar saja, lusinan tulisan seputar filantropi telah ia produksi dalam bentuk artikel, jurnal, bahkan buku. Tak tanggung-tanggung, penerbit yang menggarapnya pun bertaraf nasional. Betapa kapasitas penulis memang layak dipercaya untuk memberi sumbangsih pikir bagi dunia filantropi Indonesia.

Berikut ini, hasil wawancara redaksi Jogyadaily.com dengan  Hilman Latief, MA, di kantor Lembaga Pendidik Pengajar Pelatihan Moral (LP3M) UMY.

Secara sederhana, apa pengertian pendidikan filantropi dan pendidikan filantropi?

Hal itu bisa dilihat dari dua hal. Pertama, kontribusi filantropi pada penguatan pendidikan. Kedua, bagaimana pendidikan filantropi itu sendiri.

Banyak lembaga pendidikan di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, sebenarnya berasal dari kegiatan-kegiatan filantropi masyarakat, terutama yang berbasis keagamaan. Kalau kita melihat sejarah kampus-kampus besar dunia, seperti Harvard, Cambridge, Oxford, Al-Azhar, atau pun kampus-kampus besar Dunia Islam, awalnya dari kegiatan keagamaan. Dari kegiatan keagamaan kemudian berkembang menjadi kegiatan sosial, lantas masuk ke pengembangan pendidikan. Dan itu basisnya tetap sama, filantropi.

Bahkan beberapa lembaga di luar negeri telah menjadikan filantropi sebagai salah satu pusat studi. Mereka menginginkan kajian filantropi dipahami masyarakat memiliki kontribusi terhadap pendirian lembaga pendidikan.

Di Indonesia, lembaga filantropi mulai berkembang. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk peduli semakin menguat dan solidaritas mereka juga mulai tinggi.

Filantropi pendidikan diharapkan dapat memberi kontribusi dalam masyarakat. Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai atau mentalitas filantropi.

Peserta didik kemudian tidak berkacamata kuda, seperti lulus kuliah, kerja, menikah, tanpa memiliki kepedulian pada masyarakat sekitarnya.

Peserta didik bisa menjadi kering mentalitasnya tanpa nilai-nilai voluntaris, helping, caring, assisting, dan seterusnya.

Kini, sudah saatnya lembaga pendidikan menjadikan filantropi sebagai salah satu subyek yang dipelajari di sekolah dan kampus dengan berbagai dimensinya. Hal ini dapat mendorong mahasiswa untuk tidak hanya belajar menjadi dermawan, tapi juga memahami social entrepreneurship atau sociopreneur.

Aktivitas filantropi ini universal dimiliki semua agama, atau spesifik mewakili Islam?

Semua agama mengajarkan filantropi. Jadi, filantropi memang setua usia manusia itu sendiri. Karena, manusia selalu memiliki jiwa atau sisi baik. Sebenarnya, konsep filantropi berkhazanah filsafat. Filantropi itu filosofis, karena terdiri dari kata philos dan antrophos, berarti cinta pada kemanusiaan.

Secara umum, hal tersebut kemudian diwujudkan dalam tradisi giving, helping, caring, assisting, dan seterusnya.

Pada literatur Islam memang tidak ditemukan diksi sama yang menyebut filantropi. Tapi pada pengertian yang lebih luas, filantropi dapat ditemukan dalam konsep shadaqah yang bermakna luas, yakni tidak hanya giving dalam pengertian material, tapi juga nonmaterial, seperti pengertian, ilmu, dan lainnya.

Dalam perkembangannya, praktik zakat, infak, dan wakaf sering disebut-sebut sebagai bentuk filantropi. Pada dasarnya, zakat itu tax (pajak), tapi pada praktiknya, zakat adalah filantropi.

Di era sekarang, negara-bangsa, sistem pajak sudah sangat berkembang, sementara zakat masih dijalankan. Karena, konsepnya tetap voluntaris. Kita membayar zakat atau tidak, orang lain tidak peduli. Di sana ada kesadaran menuju perilaku filantropis.

Sebagian kalangan, ada juga yang menerjemahkan filantropi sebagai ihsan, yakni perilaku yang baik. Konsep shodaqoh bukan sesederhana memberi, tapi juga sebuah perilaku ke arah kebaikan.

Siapa stakeholder pendidikan filantropi di Indonesia?

Saya kira semuanya. Sekarang, banyak yang mengupayakan pendidikan karakter masuk dalam sistem pendidikan. Bagaimana sih menyisihkan waktu untuk berbagi di luar kegiatan rutin. Nah, itu bagian dari filantropi.

Guru punya andil besar. Dia harus memiliki wawasan dan pengalaman yang bagus untuk mengajarkan filantropi.

Jadi penting adanya untuk memfasilitasi berkembangnya pendidikan filantropi di lembaga-lembaga. Bukan hanya skill, tapi juga mentalitas. Harus disediakan bahan ajar untuk mewujudkannya.

Sociopreneur bisa dikembangkan di Departemen Pendidikan dan Departemen Agama. Misal kalau bisa kreatif, buat mahasiswa, jangan hanya berkeliling ke rumah-rumah dosen untuk menggalang pembiayaan filantropi.

Pada konteks Indonesia, lembaga pendidikan filantropi mana yang dapat dijadikan rujukan?

Lembaga-lembaga pendidikan swasta tentunya dapat dijadikan rujukan. Misalnya, pesantren itu selalu inisiatif lokal. Mereka berkreasi sedemikian rupa untuk menjalankan pendidikan tanpa melulu hanya bermodal uang. Kalau kita melihat kontribusi orang-orang dulu, banyak yang tidak berbentuk uang. Mereka bisa menyumbang kayu, genting, beras, atau lainnya.

Awalnya, Muhammadiyah sebagai lembaga pendidikan tidak seperti sekarang. Kiai Ahmad Dahlan menjalankan aktivitas filantropi untuk mengorganisasikan Muhammadiyah. Seperti diketahui, ketika itu banyak sekolah Kristen dan sekolah Belanda yang tidak mudah dimasuki peserta didik pribumi.

Selain Muhammadiyah, peran NU, Persis, dan Al-Irsyad adalah contoh praktik pendidikan berbasis filantropi. Meski kemudian seiring waktu, muncul modernisasi lembaga pendidikan dengan mengubah administrasi pendidikan. Orde Baru, misalnya, berjasa pada modernisasi administrasi pendidikan.

Semua mengalami perkembangan, baik pesantren, madrasah, dan sekolah. Nah, hal menariknya, kini lembaga-lembaga filantropi seperti Lazismu, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Al-Falah, melirik pendidikan sebagai suatu hal concern yang harus dilakukan.

Kira-kira hal transformatif yang mereka lakukan adalah mendirikan sekolah berbiaya murah atau bahkan gratis bagi kalangan tidak punya.

Hal yang perlu ditekankan, lembaga modern memang harus self funded, tidak hanya menerima, tapi juga berkreasi sedemikian rupa untuk eksis. Seperti Muhammadiyah yang harus bisa menjadi lembaga independen, sementara dalam waktu sama tetap menjalankan program pembiayaan.

Bagaimana memasukkan filantropi ke dalam sistem pendidikan?

Kalau secara khusus, harus ada keberanian. Pendidikan karakter itu kan luas, dari kurikulum sampai ke sistem pendidikan nasional.

Pengetahuan filantropi juga dapat diajarkan melalui lembaga-lembaga keagamaan, dengan mendesain materi khusus. Seperti misalnya Fakultas Agama Islam (FAI) UMY, dielaborasi konsep-konsep filantropi dalam Islam. Hal ini sudah diundangkan dalam Undang-Undang zakat, misalnya. Bukan hanya masalah praktik zakatnya, tapi juga dimensi lain. Setelah itu, fund rising-nya juga membutuhkan ilmu yang banyak.

Saya mendesain lima pertemuan terakhir mata kuliah yang saya ampu dengan workshop. Mahasiswa berdiskusi program dengan capaian yang akan didapatkan. Mereka juga berpikir tentang funding, serta expert yang terlibat, entah dokter, akuntan, motivator, atau lainnya. Terakhir, mahasiswa membuat mekanisme capaian.

Pada akhirnya, mereka dapat membuat kegiatan-kegiatan sosial tradisional yang bisa diajukan dan ditawarkan kepada lembaga filantropi di Indonesia.

Lebih jelas tentang sociopreneurship?

Intinya pada inovasi, yakni bagaimana seseorang dapat membuat inovasi-inovasi yang memiliki dampak luas, baik secara sosial maupun ekonomi.

Misalnya, siswa atau mahasiswa yang membuat bank sampah, khusus plastik, di dua atau tiga tempat berbeda. Hal itu sebetulnya mengarahkan masiswa tidak hanya pintar, tapi juga memiliki nilai-nilai voluntarisme bagus. Mereka akan dapat berinovasi.

Idealnya, di Indonesia kompatibel dengan filantropi pendidikan dan pendidikan filantropi, karena pada dasarnya masyarakat suka bergotong royong. Apa program yang dapat di-share?

Saya sekarang sedang berusaha memikirkan dan menginisiasi filantropi dengan subyek eldery (lansia). Sejauh mana pemerintah dan masyarakat untuk memberdayakan lansia, dan produktif di masyarakat.

Bila dilihat, Undang-Undangnya sudah ada, peraturan sudah ada, Komnas-nya juga sudah ada. Mainstreaming lansia sebagai kelompok yang dapat aktif, membutuhkan pendekatan spesifik.

Lebih lanjut, lembaga-lembaga sosial yang ada di masyarakat kemudian punya kepedulian atas kualitas hidup belasan orang atau berpuluh orang lansia yang hidup di sekitar tempat tinggal mereka, dengan fasilitasi masyarakat.

Tentu saja, kita tidak perlu membuat para lansia menjadi kaya, tapi mereka tetap hidup produktif di tengah masyarakat. Misalnya dengan kegiatan-kegiatan khusus, ‘Lansia Mengajar’ atau ‘Lansia Bercerita’. Itu media yang belum pernah dicoba.

Bagaimana memosisikan socioentrepreneurship dan entrepreneurship?

Kombinasi antara sociopreneurship dan entrepreneurship sangat dibutuhkan, terutama pemerintah sekarang. Mereka kemudian tidak hanya berorientasi pada ekonomi semata, tapi juga kebahagiaan dan kebersamaan.

Potensi sociopreneur sangat besar, meski masih banyak yang belum mampu meng-generate hal tersebut. Pemberdayaan ekonomi atau sosial tidak selalu hanya dimaknakan berjualan, misalnya beternak bebek.

Kita harus mendorong dan membuka ruang yang lebih besar dengan stimulasi khusus.

sumber: jogyadaily.com