PPLH: “Galang Dana Lewat Pendekatan Pribadi”

1020

PPLH merupakan lembaga non pemerintah yang mengkhususkan kegiatannya pada pendidikan lingkungan hidup. Mereka melakukan aktifitasnya dengan mengundang atau mendatangkan masyarakat ke lokasi pendidikan. Komplek pendidikannya terletak di lereng barat Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Mojokerto, Jawa Timur seluas 3,7 hektar. Komplek ini ibarat “perpustakaan hidup” dengan koleksi flora dan fauna yang cukup lengkap. Tak heran jika PPLH banyak dikunjungi masyarakat lokal ataupun mancanegara untuk sekedar refreshing ataupun mengikuti berbagai program di lokasi tersebut.

Menurut Suroso, keberhasilan PPLH dalam mengembangkan berbagai program dan usaha yang mendukung kamandirian lembaga tidak terlepas dari pendekatan pribadi kepada perorangan ataupun lembaga yang simpati dengan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PPLH. Mereka umumnya berasal dari orang asing yang kaya dan punya kepedulian terhadap lingkungan. Beberapa di antaranya berasal dari kalangan diplomat atau duta besar. Sedangkan untuk donatur lokal, umumnya berasal dari para pengusaha atau ibu rumah tangga yang kaya.”

“Untuk mendekati mereka, kita tidak pernah mengajukan proposal, tapi lebih menggunakan pendekatan pribadi. Kita hanya mengajak mereka untuk melihat kegiatan kita. Saat mereka di sini, kita ajak mereka ngobrol atau diskusi tentang program yang kita kerjakan. Yang kita lakukan hanya bercerita dengan bangga berbagai upaya yang kami lakukan dan perjuangkan untuk mencoba melestarikan alam. Dalam diskusi itu tidak terhindarkan untuk membicarakan berbagai macam kebutuhan atau kesulitan dalam pengembangan lembaga ini. Kita tekankan pada mereka bahwa kebutuhan itu bukan hal yang mendasar. Tapi, kalau kebutuhan atau kesulitan itu bisa diatasi, maka akan membantu mempercepat pencapaian tujuan kita. Kalau tidak ada, kita akan tetap jalan dengan kemampuan yang ada.”

“Karena berinteraksi dan melihat secara langsung, mereka umumnya terkesan dan menanyakan apa yang bisa dibantu untuk mengembangkan lembaga ini. Saat itulah kita kemukakan kesulitan-kesulitan kita atau rencana pengembangan yang ingin kita lakukan. Kita jelaskan bahwa kita berencana membangun bungalow, asrama dan sarana lainnya, yang hasilnya akan digunakan untuk menunjang biaya program. Setelah tahu apa yang kita butuhkan, mereka memberikan komitmen untuk memberikan sumbangan.”

Pendekatan pribadi ini terbukti efektif dalam menggugah kesadaran mereka untuk menyumbang. Misalnya, seorang ibu rumah tangga dari Banyuwangi bernama Ny. Suhud tertarik untuk menyumbang dana untuk pembangunan bungalow setelah didekati secara personal dan melihat langsung berbagai kegiatan PPLH. Seorang ibu dari Inggris dan putranya juga tergugah untuk menyumbang pembangunan dua bungalow. Hal yang sama juga dilakukan oleh mantan dubes Finlandia yang menyokong pembangunan pendopo, sementara dubes Selandia Baru dan ibu-ibu dari Kedubes Inggris membiayai pembangunan  asrama. Untuk pembuatan green house, PPLH mendapat sokongan dana dari dubes Kanada. Sumbangan dari masing-masing donatur itu berkisar antara Rp5 juta sampai Rp12 juta.

Selain itu, ada juga beberapa donatur yang menyumbang untuk program. Misalnya, seorang ibu rumah tangga bernama Merly Khow dari Philipina memberikan dana rutin Rp200.000 per bulan selama dua tahun untuk program pendampingan dan pendidikan lingkungan hidup bagi murid-murid SD di beberapa desa yang ada di sekitar PPLH. Komitmen untuk menyumbang itu tercetus sewaktu dia berkunjung ke PPLH dan tanpa sengaja melihat anak-anak desa sedang tekun mengikuti pendidikan lingkungan hidup. Ketika mendapat penjelasan bahwa kegiatan itu dilakukan secara gratis, Dia menyanggupi untuk memenuhi biaya operasional yang dibutuhkan untuk program itu.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Tony Chandra, seorang pengusaha asal Bali. Pengusaha yang tengah menekuni pertanian organik ini tergugah untuk membantu dana Rp5 juta untuk program penerbitan buku – buku tentang pertanian. Ia mengaku tertarik untuk menyumbang setelah membaca buku tersebut. Menurutnya, isi buku sangat menarik dan penting untuk diketahui oleh masyarakat. Karena itu ia berharap buku tersebut bisa diterbitkan dan disebarluaskan kepada masyarakat.”

Selain perorangan, ada juga beberapa perusahaan yang mau menyumbang. “Mereka kita dekati pada saat pimpinan dan karyawannya mengikuti program outward bound activity atau berlibur di sini. Walaupun jumlah bantuannya terhitung kecil, berkisar antara Rp2 juta sampai Rp4 juta, kita tetap hargai iktikad baik mereka. Salah satunya adalah ABN Amro yang menyumbang dana untuk pembuatan jalan yang dipakai untuk rute program kita. Pembuatan jalan itu menghabiskan dana sekitar Rp5 juta. Selain itu, ada belasan  pengusaha Jatim yang juga ikut menyumbangkan. Bantuan mereka berupa dana, peralatan meja kursi, dan peralatan lainnya.

“Dalam pendekatan kepada donatur perorangan maupun lembaga, hal terpenting yang kita tekankan dan kita jaga adalah soal transparansi dan keterbukaan. Kita akan berikan laporan dari setiap sen yang kita terima. WWF, misalnya, akan terima laporan tidak hanya jumlah dan penggunaan, dana yang dia berikan tapi juga dana yang kita peroleh dari sumber lain atau dana yang kita dapatkan secara mandiri. Kita terbuka tidak hanya dalam hal keuangan tapi juga setiap masalah yang kita hadapi. Setiap kesulitan selalu kita ungkapkan. Kalau kita tidak mampu, kita akan bilang kita tidak mampu dan karena itu tolong dibantu. Para pengurus PPLH memang bukan superman yang bisa menyelesaikan segala masalah.”