Berbisnis, Sambil Berderma

802

Buku ini merupakan studi kasus yang dilakukan di lima perusahaan yang memiliki program community development secara lebih terencana. Kelima perusahaan tersebut adalah Bogasari Flour Milis, Citibank dengan programnya Citybank Peka, Coca Cola Indonesia, PT Riau Andalan Plup and Paper, dan Rio Tinto.

Studi kasus ini mencoba memberikan gambaran yang terinci mengenai bentuk-bentuk keterlibatan perusahaan dalam program pengembagan masyarkat (community development).

Sejak sekitar 2000an,  di tengah situasi ketika masyarakat Indonesia belum sepenuhnya terlepas dari dampak “krisis moneter”, bangsa ini seolah tidak kunjung henti dirundung malang. Bencana demi bencana saling susul-menysul : banjir,gempa bumi, dari Nabire, Maumere, Lampung, Bengkulu, terus ke utara sampai puncaknya, Nias dan Banda Aceh, yang dihancur leburkan oleh Tsunami dan rentetan gempa bumi yang mengikutinya. Ratusan ribu korban, yang tewas maupun yang hidup, memerlukan uluran tangan semua pihak. Dan begitulah, seluruh jajaran masyarakat-nasional sampai internasional – secara spontan bahu-membahu menggalang berbagai bentuk bantuan.

Bahkan, sebagian orang berpendapat, kita kini dilanda “tsunami bantuan”. Betapa tidak? Kita mendengar kabar di Inggris, mislanya, sejumlah organisasi kemasyarakatan telah berhasil mengumpulkan dana bantuan dari publik sebesar 300 juta poundsterling. Di Belanda 180 juta Euro. Belum lagi di Kanada, di Amerika Serikat, di Jepang dan seterusnya. Di dalam negri sendiri berbagai organisasi telah mengumpulkan rupiah samapi ratusan, kalau tidak malah triliunan, jumlahnya. Belum lagi bantuan yang dari institusi-institusi pemerintah dari seluruh penjuru dunia.

Potensi sedekan sosial di Indonesia saat ini jelas sangat besar. Salah satu sumber dana sosial yang cukup potensial untuk digali adalah dari masyarkat usaha. Dari penelitian yang pernah PIRAC lakukan terunkap minat perusahaan untuk melakukan kegiatan sosial ditengah masyarakat yang terlihat meningkat cukup tajam. Potensi dana yang disalurkan untuk kegiatan sosial ini pun terbilang cukup banyak. Paling tidak data ini tercemin dari dua penelitian yang dilakukan oleh PIRAC, yaitu pada tahun 2001 dan 2002 mengenai pola dan potensi derma perusahaan. Penelitaan mengenai derma perusahaan di Indonesia tahun 2001 menunjukan bahwa jumlah perusahaan yang melakukan kegiatan sosial adalah sebanyak 180 perusahaan dengan jumlah sumbagan sebesari 115,3 milyar.

Namun, sayangnya, kegiatan sosial yang dilakukakn oleh perusahaan kebanyakan masih tidak terencana dalam arti bersifat insidental dan berupa hibah sosial untuk tujuan-tujuan yang bersifat karitatif. Hal ini tercermin dari hasil penelitian lanjutan PIRAC yang dilakukan terhadap 226 perusahaan di sepuluh kota besar di Indonesia, dimana hampir 60% responden mengatakan bahwa sumbagan yang mereka berikan adalah bersifat insidentil, hanya 9% yang bersifat berkala, dan sebanyak 31% adalah keduanya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri: bagaimnakah penggalangan dan pemanfaatan dana dari dunia usaha ini, sebagaimana telah dilakukan terhadap dana sosial dari masyarkat individual, bisa dilakukakan secara lebih terorganisir dan berjangka panjang.

Di tengah perkembangan yang kita harap makin membaik ini, pengetahuan tentang kegiatan dan kiprah dunia usaha dalam kegitan sosial sangatlah diperlukan. Karena itulah maka PIRAC mencoba memfasilitasi studi kasus yang  telah dibukukan ini.Penelitian dan penulisan buku ini dilakukan oleh Rustam Ibrahim, seorang peneliti dan aktivis LSM senior.