Baitulmal Nusantara Tarik dan Bagikan Zakat dalam Dinar Emas dan Dirham Perak

1129

Baitul Mal Nusantara (BMN)  telah mulai mengumpulkan dan membagikan zakat mal sejak 2009. Zakat dibagikan sesuai sunnah Rasul SAW berupa dinar emas dan dirham perak.

Para mustahik kemudian membelanjakan koin dirham perak mereka ke Pasar Muamalah yang secara rutin diadakan. Di Depok, Tanjung Pinang dan Ketapang.

Dinar emas adalah koin emas seberat 4.25 gr dengan kadar 22 Karat. Koin dirham perak adalah koin perak murni seberat 2.975 gr. Di Baitul Mal Nusantara 100% uang zakat dibagikan kepada mustahik yang berhak.

Zakat dapat diterima dalam rupiah kemudian dikonversikan menjadi Dirham perak untuk dibagikan. Kurs untuk mengkonversinya mengikuti yang ada di www.wakalaindukbintan.com.

Selain di website www.wakalaindukbintan.com  keterangan lain dapat dilihat di www.zaimsaidi.com.

Posisi Ulama Maddhab tentang Keutamaan Zakat Mal dalam Dinar emas atau Dirham perak

Maddhab Syafi’i

Imam Syafi’i, dalam kitabnya Risalah, menyatakan:

Rasulullah [SAW] memerintahkan pembayaran zakat dalam perak, dan kaum Muslim mengikuti presedennya dalam emas, baik berdasarkan [kekuatan] hadits yang diriwayatkan kepada kita atau berdasarkan [kekuatan] qiyas bahwa emas dan perak adalah penakar harga yang digunakan manusia untuk menimbun atau membayar komoditas di berbagai negeri sebelum kebangkitan Islam dan sesudahnya.

Manusia memiliki berbagai [jenis] logam lain seperti kuningan, besi, timbal yang tidak pernah dibebani zakat baik oleh Rasulullah [SAW] maupun para penerusnya. Logam-logam ini dibebaskan dengan dasar [pada kekuatan] preseden, dan kepada mereka, dengan qiyas pada emas dan perak, tidak seharusnya dibebani zakat, karena emas dan perak digunakan sebagai standar harga di semua negeri, dan semua logam lainnya dapat dibeli dengan keduanya dengan dasar kadar berat tertentu dalam waktu tertentu pula.

Maddhab Maliki

Syekh Muhammad Illysh, Mufti Al Azhar, pada 1900-an, mewakili posisi Madhhab Maliki, secara tegas mengharamkan uang kertas sebagai alat pembayar zakat. Fatwanya:

Kalau zakat menjadi wajib karena pertimbangan substansinya sebagai barang berharga (merchandise), maka nisabnya tidak ditetapkan berdasarkan nilai [nominal]-nya melainkan atas dasar substansi dan jumlahnya, sebagaimana pada perak, emas, biji-bijian atau buah-buahan.

Karena substansi [uang kertas] tidak relevan [dalam nilai] dalam hal zakat, maka ia harus diperlakukan sebagaimana tembaga, besi atau substansi sejenis lainnya.

Maksudnya, sama dengan posisi Imam Syafi’i, (uang) kertas disamakan dengan besi atau tembaga, hanya dapat dinilai berdasar beratnya, sedang nilainya harus ditakar dengan nuqud (Dinar atau Dirham). Ketiganya terkena zakat hanya bila diperdagangkan, dan tidak sah dipakai sebagai pembayar zakat.

Maddhab Hanafi

Imam Abu Yusuf, satu di antara dua murid utama Imam Abu Hanifah, dan pendiri Madhhab Hanafi, menulis surat kepada Sultan Harun Al Rashid, (memerintah 170H/786M-193H/809M). Ia menegaskan keharaman uang selain emas dan perak sebagai alat pembayaran zakat. Ia menulis:

Haram hukumnya bagi seorang Khalifah untuk mengambil uang selain emas dan perak, yakni koin yang disebut Sutuqa, dari para pemilik tanah sebagai alat pembayaran kharaj dan ushr mereka. Sebab walaupun koin-koin ini merupakan koin resmi dan semua orang menerimanya, ia tidak terbuat dari emas melainkan tembaga. Haram hukumnya menerima uang yang bukan emas dan perak sebagai zakat atau kharaj.

Dari berbagai fatwa hukum para imam di atas sangat jelas bahwa zakat harta dan perniagaan tidak dapat dibayarkan kecuali hanya dengan Dinar emas atau Dirham perak.

Cara Menghitung dan Membayarkan

Bila Anda memiliki Dinar emas atau Dirham perak yang telah melewati nisab, yaitu 20 Dinar atau 200 Dirham, maka harus dikeluarkan zakatnya 2.5%, yaitu 0.5 Dinar atau 5 Dirham.

Bila harta Anda masih berupa uang kertas atau turunannya (deposito, saham, cek, dsb), harus Anda takar nisabnya dengan Dinar atau Dirham. Nisab zakat mal adalah 20 Dinar emas atau 200 Dirham perak. Zakatnya 2.5%-nya. Harta yang dihitung hanyalah yang telah memenuhi haul-nya, yakni tersimpan selama setahun.

Kewajiban zakat 2.5% dari total harta Anda kemudian ditukarkan dengan salah satu mata uang syar’i ini, Dinar Emas atau Dirham Perak. Dengan Dinar Emas atau Dirham Perak inilah baru Anda dapat membayarkan zakat.

Di sini Anda bisa membayarkan zakat dalam rupiah, kurs konversi Dirham Perak saat ini Rp 70.000/dirham. Jadi kalau kewajiban zakatnya 2 Dirham, yang dikirim melalui rekening BMN adalah Rp 140.000. Sedangkan 1 DInar emas adalah Rp 2.300.000. Bila kewajibannya 2 dinar maka jumlah rupiahnya Rp 4.600.000. Dan seterusnya sesuai kelipatannya.

Rekening BMN adalah No 067.008.4436 Bank Syariah Mandiri an Amal Nusantara. Muzaki kemudian diharapkan mengonfirmasikannya melalui WA No 083870225056